Pada masa penjajahan Belanda ada seorang yang bernama Singo Redjo. Dia hidup disebuah tempat, dimana tempat itu tumbuh sebuah pohon yang sangat besar sekali. Pohon itu disebut pohon Gondang, dan pohon itu sangat keramat dan dibilang angker.
Karena Mbah Singo Redjo hidup didekat pohon Gondang dan dimana tempat itu belum ada namanya, maka Mbah Singo Redjo memberi nama tempat itu desa Gondang. Semakin lama penduduk yang bertempat tinggal disitu semakin bertambah banyak. Sebelum menjadi desa Gondangsari, desa Gondang masih menjadi satu kelurahan dengan desa Muneng Warangan dengan nama desa Gondangan. Karena desa Gondangan berprestasi baik, maka pemerintah kolonial Belanda memberi penghargaan dengan mengganti nama desa, desa Gondangan menjadi desa Gondangsari.
Sejak desa Gondangan diganti nama menjadi desa Gondangsari, maka desa Gondangan yang menjadi satu kelurahan dengan desa Muneng Warangan sekarang menjadi dua desa, yaitu desa Gondangsari dan desa Muneng Warangan. Dan sejak berubah menjadi desa Gondangsari sudah 8 (delapan) kepala desa yang memerintah di desa Gondangsari, yaitu: (1) Bapak Wongso Drono, (2) Bapak Wongso Drono dari Delok, (3) Bapak Wongso Redjo dari Gondangsari, (4) Bapak Harjo Soedarsono, (5) Bapak Harjo Soeparto, (6) Bapak Suhartopo, (7) Bapak Sarno Sunyoto, (8) Bapak Pawit Widodo dari dusun Sembungan. Dan sejak itu jadilah desa Gondangsari yang sampai sekarang menjadi kelurahan atau desa Gondangsari.